MENUJU SEKOLAH YANG MEMBAHAGIAKAN
Oleh : Johannes Sidabalok, S.Pd
“Untuk menjadi sukses di masa depan, anak harus
bahagia. Untuk bahagia,
maka perlu diciptakan lingkungan sekolah yang
menyenangkan bagi anak”
Inovasi
baru dimunculkan oleh Kementerian Sosial dengan mewacanakan program Sekolah
Bahagia agar anak-anak lebih bahagia dan mereka bisa sukses di masa yang akan
datang.
“Kami kembangkan program sekolah
bahagia, dari pada anak stress, banyak tugas, banyak PR, lebih baik diberi kebahagiaan” kata
Direktur Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial Edi Suharto di jakarta (antara
news.com ). Program Sekolah Bahagia yang diwacanakan antara lain dengan
memberikan pelatihan kepada para guru bagaimana menciptakan sekolah bahagia.
Begitu juga dengan penyampaian kurikulum yang menyenangkan
Namun,
pertanyaan besarnya adalah bagaimana dengan guru? Apakah guru saat ini sudah
sudah bahagia menyenangkan dan menggembirakan? Sebelum
bermimpi menciptakan siswa yang bahagia, maka guru terlebih dahulu harus
bahagia, sebab siswa bahagia dihasilkan oleh guru yang bahagia.”
Penderitaan Guru
Menggapai Kebahagiaan
Guru, hakikatnya
adalah orang biasa dengan sejarahnya yang panjang dan berliku. Orang ini berada
dalam barisan terdepan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pengabdian
bukan karena titel dan tumpukan harta duniawi melainkan karena adab,
pengorbanan besar mereka. Begitulah seorang guru, ketika bekerja ia mendidik
untuk bangsa dan masyarakat, rela menderita demi mendidik anak bangsa
Mengapa
mendidik itu menderita : 1) sebagai guru harus bertanggung jawab terhadap semua
hal yang terjadi pada setiap siswa, meskipun kesalahan itu dilakukan oleh
siswa; 2) guru harus menyediakan seluruh sumber daya yang dimiliki melebihi apa
yang bisa diberikan oleh orang lain; 3) guru berada dalam barisan terdepan
menghadapi resiko atau bahaya; 4) jika berhasil itu adalah prestasi
semua, jika gagal itu adalah tanggung jawab guru; 5) guru adalah penikmat yang
terakhir setelah semua orang menikmati, namun guru adalah penderita paling awal
sebelum yang lain menderita.
apakah mendidik itu dan kebahagiaan
sebagai dua hal yang sejalan. mendidik itu sebagai sebuah pekerjaan sering
diartikan sebagai beban atau kewajiban yang harus dialakukan sebagai konskuensi
logis sebuah profesi. Namun sesungguhnya kebahagiaan dan mendidik itu adalah
dua sisi yang sangat berkaitan, bahkan mendidik itu merupakan salah satu jalan
mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Banyak para filosof yang berpendapat bahawa
jalan menuju kebahagiaan tidaklah tunggal. Bisa jadi hal yang membahagaiakan
menurut kita belum tentu menyenangkan bagi orang lain.
Untuk
membuat para Guru bahagia setiap saat pastilah bukan pekerjaan yang mudah bagi
semua pihak yang memegang peranan seperti kepala sekolah dan pemerintah Tapi
setidaknya pemerintah dapat menjadi bagian penentu kesejahteraan para pendidik
tersebut.
Kepala Sekolah Membahagiakan
Salah
satu pihak yang memegang peranan penting dan sentral yang membuat guru bahagia
setiap saat adalah kepala Sekolah. Kepala sekolah harus benar benar menjadi
kepala sekolah yang bahagia. Sesuai Permendiknas No.13 tahun 2007 tentang 5
kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah adalah kompetensi manajerial.
Kewirausahaan, supervisi, kepribadian dan sosial. Diantara ke lima kompetensi
itu, kompetensi yang mampu menghasilkan kepala sekolah bahagia dan
membahagiakan adalah kompetensi sosial, mengapa ? kita kembali kepada fungsi Sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal yang bukan hanya menggembleng kognitif namun semua unsur manusia dan kemanusiaan
seperti sikap spiritual, sosial, ketrampilan dan emosional.
Ada 4 Hal yang mendasar mengapa
kepala sekolah harus bahagia untuk membahagiakan para pendidik sesuai dengan kompetensi sosial nya, yakni : 1)
membahagiakan pendidik, maka racun dalam tubuh akan keluar melalui
ketenagan hati, 2) membahagiakan pendidik akan berdampak positif pada pendidik
itu sendiri yakni merasa dihargai, 3)
membahagiakan pendidik berarti memberi gairah hidup pada pendidik dalam
menjalankan tugas tugasnya, 4) membahagiakan pendidik berarti mensinergiskan
pikiran, perasaan, hati dan tindakan kepada pendidik
Ketika suatu sekolah terus
mengadakan peningkatan mutu guru, maka kepala sekolah harus mampu
mengaplikasikan kompetensi sosialnya dengan mengedepankan kemampuan visioner.
Sikap Visioner yang dimiliki kepala sekolah berdampak luar biasa bagi kemajuan sekolah, mengeluarkan aura positif, kemajuan
karir diri dan teman sejawat, bekerja dengan teladan, mengambil keputusan
bijak, mengatasi masalah, memandang semua hal secara positif, mensinergis dan
mengharmonis semua elemen sekolah.
Guru bahagia adalah guru yang selalu
diperhatikan kepala sekolah, sebaliknya penderitaan guru semakin lengkap jika
kepala sekolah tidak mampu menjalankan kompetensi sosialnya, tidak visioner dan
tidak bahagia. Indikatornya dapat kita lihat dari sikap kepala sekolah yang otoriter, penghukum jika guru lalai
menjalankan tugasnya, tidak pernah menghargai prestasi guru, tidak peduli isi
dompet guru yang kosong (mempersulit pemberkasan sertifikasi dan non
sertifikasi) dan mungkin masih banyak lagi yang tidak dapat diungkapkan guru.
Siswa
bahagia dihasilkan oleh Guru yang bahagia
Guru
itu tugasnya disekolah. Tidak boleh kemana mana. Jangan coba terlambat, ada
malaikat pencatat (baca- finger print). Begitulah nasib guru, ini harus di
apresiasi oleh berbagai pihak terutama kepala sekolah yang setiap saat
berhadapan dengan guru dan memiliki
peluang yang besar untuk membahagiakan guru, Mengapa guru harus bahagia ?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa guru yang bahagia cenderung berfikir
fleksibel,inklusif, kreatif, dan reseptif.
Guru bahagia lebih riang dalam penampilannya,
bersikap terbuka, bersedia menerima kritik,dan memiliki sense of humor
yang baik. Ruang kelas menjadi lebih riang, fun, dan para siswanya akan mudah
mengerti, mudah memahami materi pembelajaran, dan lebih kreatif. Para guru
humoris yang membuat suasana belajar ceria adalah guru-guru yang paling
berhasil mencerdaskan siswa nya
Selamat HUT Guru Nasional Tahun 2019
Penulis
adalah seorang guru
di
SMPN2 Jawa Maraja

0 komentar:
Posting Komentar